Tuna Grahita

Solusi Sembuh Alami
Natural, Aman, Herbal, Halal, Uji Klinis
Ijin Badan POM Resmi, Hak Paten Dan Sertifikat Tingkat Dunia
Sudah Banyak Yang Sembuh

Klik GoSehat.com

GoSehat.com » Tuna Grahita

Tuna Grahita/Cacat Ganda merupakan kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada mental intelektual (mental retardasi) sejak bayi/dalam kandungan atau masa bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh faktor organik biologis maupun faktor fungsional.

Penyandang tunagrahita adalah anak yang secara umum memiliki kekurangan dalam hal fungsi intelektualnya secara nyata dan bersamaan dengan itu, berdampak pula pada kekurangannya dalam hal prilaku adaptifnya, di mana hal tersebut terjadi pada masa perkembangannya dari lahir sampai dengan usia delapan belas tahun.

Bisa diartikan bahwa anak tunagrahita adalah mereka yang memiliki hambatan pada dua sisi, yaitu pertama pada sisi kemampuan intelektualnya yang berada di bawah anak normal. Anak tersebut memiliki kemampuan intelektual yang berada pada dua standar di bawah normal jika diukur dengan tes intelegensi dibandingkan dengan anak normal lainya. Yang kedua adalah kekurangan pada sisi prilakua adaptifnya atau kesulitan dirinya untuk mampu bertingkah laku sesuai dengan situasi yang belum dikenal sebelumnya. Keadaan tersebut terjadi pada proses pertumbuhannya, cara berfikir dan kemampuannya dalam bermasyarakat sejak anak tersebut lahir dan berusia delapan belas tahun.

Pada umumnya anak Tunagrahita memiliki kemampuan yang kurang dalam hal mengingat (memory) yang merupakan suatu kesulitan kronis yang diduga bersumber dari neurologis (syaraf), sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca anak Tunagrahita dipengaruhi oleh Aspek Persepsi dan Aspek Memory yang merupakan proses mental yang terletak di otak.

Hasil penelitian anak tunagrahita yang mengalami gangguan bahasa lebih banyak dibandingkan dengan yang mengalami gangguan bicara. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak tunagrahita cenderung mengalami kesulitan dalam keterampilan berbahasa, meliputi morfologi, sintaksis, dan semantic. Dalam hal semantic mereka cenderung kesulitan dalam menggunakan kata benda, sinonim, penggunaan kata sifat, dan dalam pengelompokkan hubungan antara obyek dengan ruang, waktu, kualitas, dan kuantitas.

Klasifikasi Anak Tunagrahita

Ada beberapa klasifikasi anak Tunagrahita yang di ukur melalui IQ:

• Tunagrahita Ringan (IQ 51-70)

Anak yang tergolong dalam tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan   kemampuan. Mereka mampu dididik dan dilatih. Misalnya, membaca, menulis,  berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak  begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu  anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.

• Tunagrahita Sedang (IQ 36-51)

Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.

• Tunagrahita Berat (IQ dibawah 20)

Anak tunagrahita berat sering disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak tunagrahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.

Penggolongan tunagrahita untuk keperluan pembelajaran sebagai berikut:

  • Taraf perbatasan dalam pendidikan disebut sebagai lamban belajar dengan IQ 70-85.
  • Tunagrahita mampu didik dengan IQ 50-75
  • Tunagrahita mampu latih dengan IQ 30-50
  • Tunagrahita butuh rawat dengan IQ dibawah 25 atau 30

Penggolongan tunagrahita secara medis-biologi sebagai berikut:

  • Tunagrahita taraf perbatasan (IQ : 68-85)
  • Tunagrahita ringan (IQ : 51-68)
  • Tunagrahita sedang (IQ : 36-51)
  • Tunagrahita sangat berat (IQ : < 20)
  • Tunagrahita tak tergolongkan

Penyebab Tuna Grahita

Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita. Para ahli dari berbagai ilmu telah berusaha membagi faktor-faktor penyebab ini diantaranya adalah sebagai berikut:

• Faktor keturunan

Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak mengalami Langdon Down’s S yndrome dan pada trisomi kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome dengan ciri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh, sumbing, dan kantung empedu yang besar. Selain itu, setelah mencapai masa puber tubuhnya menjadi panjang, gayanya mirip wanita, berpayudara besar.

• Gangguan metabolisme dan gizi

Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Phenylketonuria

Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala umum yang nampak adalah tunagrahita, kekurangan pigmen, microcephaly, serta kelainan tingkah laku.

b. Cretinisme

Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat ringan kelainan tergantung pada tingkat kekurangan thyroxin. Gejala utama yang tampak adalah adanya ketidaknormalan fisik yang khas dan ketunagrahitaan dan awal gejalanya dengan kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang tersenyum dan tidur yang berlebihan.

• Infeksi dan keracunan

Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang menyebabkan anak lahir menjadi tunagrahita.

a. Rubella

Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu pertama kehamilan. Selain tunagrahita, ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan lain-lain.

b. Syphilis bawaan

Kondisi bayi yang terkena Syphilis adalah kesulitan pendengaran, hidungnya tampak seperti hidung kuda.

c. Syndrome Gravidity beracun

Ketunagrahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur, kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun, dan berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta.

• Trauma dan zat radioaktif

Trauma otak yang terjadi di kepala dapat menimbulkan pendarahan intracranial terjadinya kecacatan pada otak. Ini biasanya disebabkan karena kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu. Selain itu penyinaran atau radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microcephaly.

• Masalah pada kelahiran

Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita kerusakan otak

• Faktor lingkungan

Latar belakang pendidikan orang tua sering juga dihubungkan dengan masalah-masalah perkembangan. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsang-rangsang positif dalam masa perkembangan anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak pribadi dangan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya berbicara, tersenyum, bermain yang mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mental intelektualnya.

Anak tuna grahita cenderung:

  • Bergaul dengan anak yang lebih muda
  • Suka menyendiri
  • Mudah dipengaruhi
  • Kurang dinamis
  • Kurang pertimbangan/kontrol diri
  • Kurang konsentrasi
  • Mudah dipengaruhi
  • Tidak dapat memimpin dirinya maupun orang lain.

Ciri ciri Tuna Grahita antara lain :

  • Kecerdasan sangat terbatas
  • Ketidakmampuan sosial yaitu tidak mampu mengurus diri sendiri, sehingga selalu memerlukan bantuan orang lain
  • Keterbatasan minat
  • Daya ingat lemah
  • Emosi sangat labil
  • Apatis, acuh tak acuh terhadap sekitarnya
  • Kelanan badaniah khusus jenis mongoloid badan bungkuk, tampak tidak sehat, muka datar, telinga kecil, badan terlalu kecil, kepala terlalu besar, mulut melongo, mata sipit.
  • Hydrocephalus yaitu ukuran kepala besar yang berisi cairan
  • Microcephalus yaitu ukuran kepala terlalu kecil
  • Macrocephalus yaitu ukuran kepala terlalu besar

Karakteristik Tuna Grahita:

  • Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru
  • Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru
  • Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat
  • Cacat fisik dan perkembangan gerak
  • Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri
  • Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim
  • Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus

Pencegahan Tuna Grahita

Beberapa alternatif upaya pencegahan timbulnya tunagrahitaan adalah sebagai berikut:

Diagnostik Prenatal, yaitu usaha yang dilakukan untuk memeriksa kehamilan. Dengan ini diharapkan dapat ditemukan kemungkinan adanya kelainan pada janin, baik berupa kromosom maupun kelainan enzim yang diperlukan bagi perkembangan janin.

Imunisasi. Imunisasi dilakukan terhadap ibu hamil maupun balita, sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit yang mengganggu perkembangan bayi.

Tes darah, untuk menghindari kemungkinan menurunkan benih-benih yang berkelainan.

Program keluarga berencana.

Penyuluhan genetik, suatu usaha mengkomunikasikan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah genetika dan masalah yang ditimbulkannya lewat media tertentu.

Tindakan operasi, diperlukan terutama bagi kelahiran dengan resiko tinggi untuk mencegah kelainan yang ditimbulkan pada waktu kelahiran (masalah perinatal, misalnya trauma, kekurangan oksigen dan lainnya).