Penyakit Disfungsi Syaraf Wajah (Bell’s Palsy)

Solusi Sembuh Alami
Natural, Aman, Herbal, Halal, Uji Klinis
Ijin Badan POM Resmi, Hak Paten Dan Sertifikat Tingkat Dunia
Sudah Banyak Yang Sembuh

Klik www.ObatSakti.com

GoSehat.com » Penyakit Disfungsi Syaraf Wajah Bells Palsy

Bell’s Pallsy adalah penyakit yang menyerang saraf wajah sehingga menyebabkan kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah. Peradangan pada bagian saraf tersebut menyebabkan bengkak sehingga saraf menyempit dan terjadi perubahan pada otot wajah. Disfungsi saraf yang terjadi berkaitan dengan motorik wajah, termasuk mimik. Gejala lain yang menyertai bell’s palsy adalah mata yang tidak bisa dipejamkan dan telinga yang lebih peka (hiperakuisisi).

Bell’s Palsy merupakan suatu gejala klinis penyakit mononeuropati (gangguan hanya pada satu syaraf) yang menyerang syaraf no.7 (syaraf fascialis). Inti dari syaraf 7 berada di batang otak dan berfungsi untuk mengatur otot pergerakan organ wajah antara lain di daerah mulut seperti meringis, bibir maju ke depan. Pada mata, syaraf ini juga mengatur pergerakan kelopak mata seperti memejamkan mata, pergerakan bola mata serta mengatur aliran air mata. Syaraf ini juga memiliki serabut yang menuju ke kelenjar ludah dan juga pendengaran.

Bell’s Palsy bukan stroke, karena hanya menyerang wajah. Sedangkan stroke menyebabkan kelumpuhan beberapa saraf selain wajah. Bell’s Palsy mengakibatkan tidak dapat mengatur impuls motorik kepada otot karena tersumbat akibat pembengkakan. Akibatnya otot-otot pada organ yang langsung berhubungan dengan syaraf  tersebut menjadi tidak berfungsi dan organ pun menjadi lumpuh.

Gangguan saraf ini banyak terjadi  pada musim dingin, biasanya yang dialami laki-laki yang tergolong usia dewasa. Kemungkinan hal ini karena lelaki banyak beraktivitas/bekerja di luar. Orang yang bekerja di ruangan ber AC pun bisa terserang bila hawa dingin yang ditimbulkan hanya terpusat pada satu tempat. Bell’s Palsy sering pula terjadi pada seseorang dengan  sistem kekebalan yang menurun seperti hamil, mengidap diabetes atau sedang mengalami infeksi. Juga mereka yang mempunyai keluarga dengan riwayat pernah mengalami serangan penyakit ini. Dalam kasus ini kemungkinan faktor genetik ikut berperan.

Sekitar 60-85 persen penderita bell’s palsy sembuh sendiri karena sifat penyakit yang self limiting disease. Yang penting tetap hidup sehat dan mengontrol pola makan. Pada kebanyakan orang, kelumpuhan saraf tersebut bersifat sementara, yakni selama beberapa hari hingga beberapa minggu, serta dapat kembali pulih setelah kurang lebih 6 bulan. Walaupun demikian, ada juga beberapa kasus dimana kelumpuhan saraf wajah tersebut terjadi secara permanen seumur hidup.

Penyakit lainnya yang juga bisa menyebabkan kelumpuhan saraf wajah adalah:

  • Tumor otak yang menekan saraf
  • Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus (misalnya sindroma Ramsay Hunt)
  • Infeksi telinga tengah atau sinus mastoideus
  • Penyakit Lyme
  • Patah tulang di dasar tengkorak.

Gejala Bell’s Palsy

Bells palsy bisa terjadi secara tiba-tiba, berupa kelumpuhan ringan sampai total pada salah satu sisi wajah, menyebabkan pasien sulit tersenyum atau menutup salah satu kelopak mata. Gejala Bell’s Palsy secara umum:

  • Terjadinya asimetri pada wajah
  • Rasa baal/kebas di wajah- Sudut mulut turun
  • Sulit untuk berbicara
  • Sensitivitas terhadap suara akan meningkat pada sisi wajah yang terpengaruh
  • Kadang timbul nyeri kepala
  • Air mata tidak dapat dikontrol dan sudut mata turun
  • Kehilangan refleks konjungtiva sehingga tidak dapat menutup mata
  • Rasa sakit pada telinga terutama di bawah telinga
  • Tidak tahan suara keras pada sisi yang terkena
  • Kehilangan rasa di bagian depan lidah
  • Wajah melorot menjadikan wajah sulit berekspresi- Penurunan kemampuan indera pengecap pada sisi yang lumpuh
  • Pada beberapa kasus, Bell’s Palsy dapat mempengaruhi saraf kedua sisi wajah, walaupun hal tersebut jarang terjadi

Pada kasus yang ringan proses penyembuhan lebih cepat, sedangkan pada kasus yang lebih berat dapat menyebabkan kerusakan permanen serabut saraf. Pasien Bell’s Palsy yang sudah parah akan mengalami perubahan bentuk wajah  menjadi  penyok, bicara tidak jelas, fungsi lidah terganggu terutama saat mengucapkan huruf konsonan.

Komplikasi Bell’s Palsy

Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita Bell’s Palsy adalah:

  • Hilangnya rasa (ageusia)
  • Kerusakan saraf wajah yang permanen
  • Pertumbuhan saraf yang tidak sesuai dengan yang seharusnya sehingga menyebabkan pergerakan yang tidak terkontrol pada wajah
  • Buta sebagian atau total akibat kekeringan pada mata yang tidak bisa menutup dan terjadinya kerusakan pada kornea mata yang kering
  • Spasme wajah kronis (kontraksi kedutan spontan pada saraf yang mengontrol otot-otot wajah seperti alis, kelopak mata, mulut, bibir)
  • Infeksi kornea mata
  • Kebutaan penuh atau sebagian.

Penyebab Bell’s Palsy

Penyebab dari Bell’s Palsy belum diketahui secara pasti namun Bell’s Palsy bisa disebabkan oleh kerusakan saraf yang disebabkan oleh radang, penekanan, atau pembengkakan. Penyebab Bell’s Palsy ini sering juga dikaitkan dengan paparan infeksi virus. Para ahli meyakini infeksi virus Herpes simplek sebagai  penyebab utamanya, sehingga terjadi  proses radang dan pembengkaan saraf. Selain itu, disebutkan juga virus Herpes zoster yang sering menyerang wajah tanpa disertai gejala yang jelas, dan virus Epstein-Barr.

Hal lain yang diduga kuat adalah faktor genetik yaitu riwayat keluarga yang pernah mengalami Bell’s Palsy. Dari beberapa penderita menunjukkan Bell’s Palsy erat hubungannya dengan suhu dan udara dingin. *Gangguan otot wajah dapat pula disebabkan oleh serangan stroke, infeksi, sakit getah bening dan tumor. Penyebab Bell’ Palsy juga bisa disebabkan karena angin dingin yang masuk ke dalam tengkorak, yang membuat syaraf di sekitar wajah sembab lalu membesar.

Pencegahan Bell’s Palsy

  • Hindari mandi di malam hari
  • Hindari kebiasaan langsung mandi atau mencuci muka sehabis berolahraga
  • Hindari terpaan angin langsung ke wajah
  • Melakukan gerakan-gerakan wajah tertentu  yang dapat merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakkan otot-otot wajah
  • Bisa dilakukan kompres hangat dan pemijatan pada wajah untuk meningkatkan aliran darah pada otot-otot wajah.

Artikel Terkait Penyakit Disfungsi Syaraf Wajah (Bell’s Palsy):