ASWIN E. HARTONO

Morinda Tahitian Noni Andalan Keluarga

Awal Januari tahun 2012 lalu, saya diketahui mengidap kanker nasofaring (kanker di area pangkal hidung), yang ditandai dengan gejala sakit kepala dan pusing hebat disertai dengan munculnya pembengkakan yang menyerupai gondok di sekitar leher sebelah kiri. Saat itu saya sekeluarga tidak mengetahui banyak tentang sakit ini, sehingga dengan pertimbangan matang kami memutuskan untuk menjalani pengobatan di sebuah rumah sakit khusus kanker di Malaysia. Pengobatan yang harus saya jalani berupa kemoterapi berulang tiap 2 minggu sekali sebanyak 8 kali dan penyinaran radioterapi sebanyak 33 kali yang harus dilakukan setiap hari dalam sepekan dari hari Senin sampai Jumat dengan jeda waktu hari Sabtu dan Minggu. Sejak awal menjalani pengobatan, dokter sudah sedikit banyak memberikan informasi dan mengedukasi tentang apa yang akan dijalani, dialami dan dirasakan oleh tubuh saya.

Efek kemoterapi dan radioterapi yang saya jalani cukup menyiksa dan menyakitkan karena selain kerontokan rambut, saya juga merasakan lemas, kehilangan nafsu makan serta mengalami kesulitan menelan baik makanan padat maupun cairan. Rangkaian pengobatan tersebut saya jalani selama empat bulan dengan perasaan yang campur aduk. Kadang ada masanya saya merasa kuat dan bisa mengalahkan penyakit ini namun ada juga masa dimana saya merasa tidak berdaya dan ingin menyerah. Setelah kembali ke Jakarta dan dinyatakan “bersih” dari sel-sel kanker, bukan berarti semuanya kembali berjalan normal dengan segera. Saat itu saya tetap tidak dapat menelan dengan nyaman, bahkan untuk menelan seteguk airpun saya merasa sangat tersiksa karena pasca radioterapi kondisi jaringan dalam leher saya masih berada dalam keadaan luka bakar sehingga bisa dibayangkan bagaimana sakit dan perihnya setiap kali tetes air yang melalui tenggorokan saya terasa seperti sebuah silet yang menyayat daging. Situasi ini menyebabkan berat badan saya menyusut drastis dari 78 kilogram hingga ke angka 65 kilogram.

Dalam kepayahan dan kesakitan itu saya tetap berusaha untuk segera pulih. Saya lalu mencari informasi sebanyak mungkin tentang obat dan suplemen alami berkualitas tinggi yang dapat membantu memulihkan kondisi tubuh saya selain juga menjaga kelangsungan kesehatan secara menyeluruh. Akhirnya saya menemukan informasi tentang produk Morinda Tahitian Noni. Setelah merasa cukup yakin akan manfaat produk ini, saya mencoba untuk mengkonsumsi secara teratur. Cita rasa Morinda Tahitian Noni yang segar dan manfaatnya yang saya rasakan pasca pengobatan kanker yang saya jalani menjadikan Morinda Tahitian Noni sebagai andalan saya bahkan anggota keluarga dalam menjaga kondisi kesehatan tubuh. Seiring berjalannya waktu, saya sudah dapat mengatasi dan berdamai dengan semua efek pasca pengobatan penyakit kanker nasofaring ini.

Walaupun saya sudah dinyatakan bersih dari sel-sel kanker, namun demi menjaga stamina dan kesehatan, saya tetap mengkonsumsi Morinda Tahitian Noni yang jika dihitung dari sejak pertama kali sampai sekarang sudah mencapai sekitar 70 botol. Jumlah itu mungkin akan terus bertambah karena menurut saya kesehatan sangatlah penting dalam hidup ini dan kita harus berkomitmen dalam hidup ini untuk tetap selalu menjaga dan memeliharanya sampai kapanpun.