Deteksi Autisme Pada Bayi

Solusi Sembuh Alami
Natural, Aman, Herbal, Halal, Uji Klinis
Ijin Badan POM Resmi, Hak Paten Dan Sertifikat Tingkat Dunia
Sudah Banyak Yang Sembuh

Klik GoSehat.com

GoSehat.com » Deteksi Autisme Pada Bayi

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Dalam kasus ASD para orangtua biasanya mewaspadai anak yang jarang berbicara, tetapi seharusnya orangtua dapat mewaspadai jauh sebelumnya. Salah satu contoh adalah anak yang mengalami kesulitan menyusui dimana ini adalah tanda-tanda awal masalah motorik oral. Selanjutnya melakukan gerakan merangkak yang tidak biasa sebagai tanda-tanda awal masalah motorik kasar, yang melibatkan kelompok otot yang lebih besar. Bila sejak awal autis pada bayi terdeteksi, penanganan yang dilakukan bisa memadai. Karena prinsipnya, bayi mengalami hambatan perkembangan. Yang menghambatnya adalah penyakit autis. Maka, prinsip penanganannya, anak harus dirangsang terus-menerus dan didorong agar mencapai perkembangan optimal. Seperti diketahui, ada empat dimensi perkembangan pada bayi, yaitu motorik halus, motorik kasar, bahasa dan komunikasi, serta sosialisasi. Jadi, sejak bayi 4 hal inilah yang perlu dilatih satu per satu agar ia mampu mencapai tonggak-tonggak perkembangannya. Setiap dimensi dirangsang dengan teknik dan metode yang sesuai kebutuhannya. Karena anak autis tak punya interaksi sosial dan emosional yang memadai, metode yang dilakukan adalah pendekatan perilaku atau stimulasi yang disebut dengan ABA (Applied Behaviour Analysis). Biasanya ini dilakukan untuk anak usia 1 tahun ke atas. Sistemnya dengan latihan dan pemberian pujian atau reinforcement bila ia berhasil. Sedangkan bayi, lebih banyak diberikan rangsangan untuk sosial dan emosionalnya. Misal, bayi sering diajak berinteraksi, ditatap, didekap, dipeluk, dicium, tersenyum, dan sebagainya. Jadi, lebih pada rangsangan sensori-motoriknya. Karena rangsang-rangsang yang sampai pada otak bayi itu 90 persen ditentukan rangsang sensori-motoriknya.” Tidak dapat berjalan sampai berusia 16 bulan juga merupakan gejala yang harus diwaspadai, mengingat ini mendadakan perkembangan yang terlambat menurut grafik perkembangan. Menurut laporan beberapa orangtua, mereka tidak memperhatikan adanya tanda-tanda yang memperingatkan pada bayi atau anak mereka. Hingga bertahun-tahun kemudian, ketika mereka melihat rekaman video sang anak saat masih kecil. Dari sinilah kemudian mereka mengamati bahwa anak mereka tidak meniru atau terlibat dalam permainan bahkan tidak tahu cara untuk mencengkeram sebuah krayon saat mereka harus melakukannya. Terkadang seorang anak dengan ASD akan berkembang dengan tidak merata, berkembang secara dini di beberapa bidang, namun terlambat dalam hal lain sehingga menambah kebingungan bagi orangtua. Anak-anak bisa saja mampu berjalan terlebih dahulu baru selanjutnya berbicara atau sebaliknya, tapi memiliki masalah dengan skill motorik yang mendasar seperti berlari dan meloncat. Atau anak-anak dapat mengembangkan kemampuan meniru yang sesuai sebagai seorang bayi, tetapi kemudian, ketika mereka menginjak pada usia balita, mereka bisa saja mengembangkan kemampuan meniru mereka menjadi lebih ekstrim, mengikuti dan mengulangi persis tindakan orang lain tanpa terlalu memahami apa yang mereka lakukan (sebuah kondisi yang dikenal sebagai echopraxia). Berdasarkan National Institute of Mental Health (NIMH), beberapa indikator awal kemungkinan ASD adalah sebagai berikut

– Tidak mengoceh, menunjuk atau membuat gerakan yang bermakna saat menginjak usia 1 tahun.
– Tidak bisa berbicara satu kata pun di usia 16 bulan.
– Tidak mampu menggabungkan dua kata di usia 2 tahun.
– Tidak merespon ketika namanya disebutkan.
– Kurang mampu berbahasa dan kemampuan bersosialisasi.
– Menghindari kontak mata.
– Seperti tidak tahu bagaimana caranya bermain dengan mainan.
– Tertarik pada satu mainan atau objek tertentu.
– Tidak tersenyum.
– Terkadang tampak seperti mengalami gangguan pendengaran.

DETEKSI DINI AUTIS Meskipun sulit namun tanda dan gejala autism sebenarnya sudah bisa diamati sejak dini bahkan sejak sebelum usia 6 bulan. Deteksi dini sejak dalam kandungan
Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autism sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian. Deteksi dini sejak lahir hingga usia 5 tahun
Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi. Tetapi amatlah penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupahan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin mudah. Berikut beberapa gejala yang harus diwaspadai : Usia 0 – 6 bulan – Bayi jarang menangis( tampak terlalu tenang)
– Terlalu sensitif
– Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
– Tidak babbling
– Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
– Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
– Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal Usia 6 – 12 bulan – Sulit bila digendong
– Tidak babbling
– Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
– Tidak ditemukan senyum sosial
– Tidak ada kontak mata
– Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
– Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
– Gerakan tangan dan kaki berlebihan
– Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal Usia 1 -2 tahun – Kaku bila digendong
– Tidak mengeluarkan kata
– Tidak tertarik pada boneka
– Memperhatikan tangannya sendiri
– Tidak mau bermain permainan sederhana
– Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
– Mungkin tidak dapat menerima makanan cair Usia 2 – 3 tahun – Melihat orang sebagai benda
– Kontak mata terbatas
– Tertarik pada benda tertentu
– Kaku bila digendong
– Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain Usia 4 – 5 tahun – Temperamen tantrum atau agresif
– Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
– Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
– Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala) Dengan prosedur pemeriksaan yang berjalan baik, sebetulnya masalah autis pada bayi bisa terdeteksi sejak awal. Intinya, orang tua harus terus-menerus memberikan rangsang yang sifatnya mengembangkan respon sosial dan emosinya.