Arteriovenous Malformations (AVM) Otak

Solusi Sembuh Alami
Natural, Aman, Herbal, Halal, Uji Klinis
Ijin Badan POM Resmi, Hak Paten Dan Sertifikat Tingkat Dunia
Sudah Banyak Yang Sembuh

Klik GoSehat.com

GoSehat.com » Arteriovenous Malformations Avm Otak 2

Arteriovenous Malformations (AVM) Otak

Penyakit AVM merupakan kelainan pembuluh darah yang diakibatkan hubungan langsung arteri dan vena. AVM biasanya sudah bawaan sejak lahir dan bisa berkembang di mana saja di tubuh, tetapi paling sering terjadi di otak atau tulang belakang. Penyakit ini juga dapat menyerang pria dan wanita dengan kemungkinan yang sama. AVM dialami oleh kurang dari satu persen populasi umum. Diperkirakan sekitar satu dari 200-500 orang mungkin terkena AVM. Umumnya AVM lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. AVM dapat terjadi di bagian otak mana saja, di dalam otak atau di penutupnya. Penyakit ini juga dikenal dengan sebutan varises otak. Karena penampakannya mirip kondisi vena saat varises di kaki, namun pada kenyataanya berbeda. Pada AVM, pembuluh vena di otak tampak melebar karena tidak mampu menahan tingginya tekanan darah dari pembuluh arteri. Sampai saat ini penyebab AVM otak belum diketahui, tetapi dokter percaya bahwa AVM otak berkembang selama perkembangan janin. Biasanya, jantung bisa mengirimkan darah kaya oksigen ke otak melalui arteri, yang bercabang ke arteriol kecil dan kemudian ke kapiler, pembuluh darah terkecil. Penyakit AVM ini penyakit yang sangat mematikan jika sudah terjadi pendarahan, yang berarti pembuluh darah di otak sudah pecah dan dapat menyebabkan stroke bila penangannya terlambat. Pada dasarnya pemicu utama penyakit ini adalah bawaannya. Peluang pendarahan di otak pasien AVM adalah 1-3 persen setahun. Sedangkan selama lebih dari 15 tahun, peluang pendarahan di otak akibat AVM yang kemudian menyebabkan kerusakan otak dan stroke adalah 25 persen. Jika AVM menimbulkan adanya pendarahan, maka risiko kematian meningkat 10-15 persen. Sedangkan kerusakan otak permanen adalah 20-30 persen. Setelah pendarahan pertama, risiko pendarahan terulang meningkat sedikit lebih tinggi di waktu yang singkat. Dalam sebuah studi disebut bahwa risiko pendarahan lagi pada tahun pertama sejak pendarahan awal terjadi ialah 6 persen yang kemudian risikonya menurun. Namun studi lain menyebut risiko kekambuhan selama tahun pertama adalah 17,9 persen. Risiko perdarahan berulang kemungkinan lebih tinggi terjadi pada tahun pertama setelah perdarahan kedua. Risiko yang muncul dilaporkan sebanyak 25 persen. Risiko perdarahan sedikit lebih tinggi pada penderita AVM berusia 11 hingga 35 tahun. Namun AVM bukanlah penyakit yang terjadi dalam waktu yang singkat. Penyakit ini membutuhkan waktu untuk kemudian menjadi beratparah. Tidak ditemukan ada gejala khusus yang menandakan bahwa seseorang menderita AVM. Dan umumnya penderita AVM biasanya cenderung tidak menyadarinya. Gejala awalnya biasanya hanya sakit kepala atau pusing pada umumnya, dan penderita biasanya tidak mengacuhkan tanpa diperiksa lebih lanjut. Biasanya penderita kerap mengalami pusing yang semakin parah dan sering. Rasa pusing biasanya baru terjadi saat penderita beranjak dewasa. Kelainan pembuluh darahnya sendiri sudah terjadi sejak penderita masih kecil. Sayangnya kondisi ini sering diabaikan dan dianggap biasa karena sering terjadi.Jadi jangan anggap remeh nyeri kepala yang sering terjadi tanpa penyebab tertentu. Pada aliran darah yang normal, arteri dan vena dihubungkan pembuluh kapiler, tempat darah disuplai nutrisi dan oksigen. Di pembuluh ini juga, tekanan darah yang tinggi pada arteri berkurang secara drastis. Tekanan yang rendah lebih sesuai dengan struktur pembuluh vena yang tidak seberotot pembuluh arteri. Pada kondisi normal, pembuluh vena membawa kembali darah yang penuh limbah metabolisme. Darah yang berasal dari berbagai jaringan ini dibawa kembali ke jantung untuk kemudian dipompa kembali ke semua jaringan. Kondisi-kondisi tersebut tidak ditemukan pada penderita AVM, akibat arteri dan vena yang terhubung langsung tanpa perantara pembuluh kapiler. Sehingga darah tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi dengan optimal. Kurangnya pasokan tentu berefek pada organ lain yang menggantungkan asupan nutrisi dan oksigen pada darah. Dampak lainnya adalah terjadinya tekanan darah yang mengalir pada vena dari arteri tetap tinggi tanpa sempat dikurangi terlebih dulu di pembuluh kapiler. Padahal dengan struktur yang lebih berotot, arteri jelas lebih mampu menahan tingginya tekanan dibanding vena. Pada beberapa kasus pembuluh vena pada akhirnya pecah karena tidak mampu menahan tingginya tekanan. Pecahnya pembuluh menyebabkan darah menggenangi rongga tengkorak. Pertambahan volume yang tidak dibarengi pelebaran ruangan, menyebabkan peningkatan tekanan pada rongga tengkorak. Kondisi yang disebut tekanan tinggi intrakranial ini, pada akhirnya menekan dan mendesak otak. Bila terus terjadi, tekanan ini akan mengenai batang otak yang merupakan pusat kehidupan. Akibatnya penderita akan merasakan pusing hebat atau kejang. AVM bukanlah penyakit yang bisa dicegah. Tapi penyakit ini bisa dikendalikan dan diterapi. Terapi akan mencegah pecahnya pembuluh vena yang bisa mengancam nyawa pasien. Disarankan penderita AVM secepatnya melakukan terapi sebelum nyeri kepala semakin hebat, yang merupakan tanda tekanan dalam otak yang semakin tinggi dan ancaman besar bagi batang otak.
Faktor risiko – Usia pasien
– Kondisi klinis pasien saat ini
– Resiko operasi
– Morfologi dan lokasi AVM
– Hipertensi
– Stres
– Aktivitas fisik
– Benturan kepala. Dengan mengetahui jenis-jenis dari sakit kepala akan sangat bermanfaat untuk bisa mengatasi atau mengobati sakit kepala dengan tepat sesuai dengan jenis sakit kepala yang sedang diderita terutama jika didalam keluarga memiliki riwayat AVM.